Salam Untuk Calon Pemimpin
11 Januari 2009

PEMILU 2009 akan datang, bak gayung bersambut, para pemburu 'kursi' kekuasaan pun mulai 'bergerak' meraih kursi tersebut.
Ada perbedaan mendasar dari calon pemimpin-pemimpin sekarang (walaupun tidak semua) dan para pemimpin zaman nabi dulu (khulafaur rasyidin) dari kutipan pidato Abu Bakr Ash Shiddiq (khulafaur rasyidin pertama) ini dapat diketahui salah satu perbadaan yang mendasar :
'Amma ba'du, para hadirin sekalian sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terabik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah akau. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanan, sementara dusta adalah suatu pengkhiatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian terbesar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian [1]
Sanad ini sahih, adapun ungkapannya, 'Sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukalha aku yang terbaik' adalah bagian dari ketawadhu'an beliau. Sebab mereka seluruhnya sepakat bahwa beliaulah yang terbaik dan termulia radiyallahu anhu.
[1] Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah 4/413-414, tahqiq Hamma Sa'id dan Muhammad Abu Suailik
Inilah mengapa 'orang' sekarang berbeda dengan orang dahulu. Dari segi orientasi dan tujuan sudah sangat berbeda. Istilahnya dari 'basic'nya saja sudah berbeda, apalagi tindakannya.
Orang-orang sekarang sepertinya sudah over abisius untuk menduduki kursi jabatan. padahal mereka belum tentu mampuu mengemban amanah tersebut. Mudahnya, Abu Bakr ra saja yang sudah pasti mampu dan sanggup mengemban amanah saja , tidak mau mencalonkan diri tapi bersedia jika dipilih. Itupun ia masih minta untuk diingatkan jika ada salah.Beda dengan orang sekarang yangtidak mau mengaku jika ada 'teguran' dari rakyat.
Mungkin memang sistem demokrasi-lah yang menuntut kita untuk mau mencalonkan diri jika ingin duduk di kursi jabatan. Namun ada satu syarat dasar yang harus dipenuhi tapi realitanya malahan jarang sekali terpenuhi ; mampu.
“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan Rosul ( Muhammad SAW) dan janganlah kalian mengingkari amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedang kalian mengetahui”(QS Al-Anfal [8]:27).
Jika satu anggota DPR mengemban 1 hingga 20 jt amanah rakyat, bayangkan berapa dosa yang ditanggung jika tak dapat terpenuhi ???
wa'allahu alam bi shawab


0 komentar:
Posting Komentar